Senin, 01 Januari 2018

Beberapa Hal Tentang Imunisasi Difteri yang Harus Diketahui Orangtua



Difteri merupakan salah satu penyakit yang sedang marak diberitakan atau dibicarakan akibat adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang terjadi di Jawa Timur dan juga tersebar di daerah lainnya seperti Pontianak dan Banjarmasin. Kasus difteri tersebut dikabarkan telah ditemukan di 20 provinsi yang tersebar di Indonesia.

Munculnya penyakit tersebut menandakan bahwa program imunisasi difteri yang selama ini dilakukan pemerintah ternyata belum memenuhi target. Pencegahan difteri melalui program imunisasi dinilai penting untuk menghindari penyakit difteri pada anak yang dapat berakibat fatal karena toksin yang dihasilkan dari kuman penyebab difteri.

Apa itu difteri?

Difteri adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Bakteri tersebut menghasilkan toksin yang nantinya dapat meluas ke seluruh tubuh. Toksin bakteri tersebut dapat menyebabkan tejadinya kerusakan jaringan setempat dan menyebabkan terjadinya suatu selaput yang dapat menyumbat jalan napas. Selain itu, toksin tersebut juga dapat beredar di dalam aliran darah dan mengakibatkan berbagai macam komplikasi lainnya seperti miokarditis (radang pada salah satu lapisan jantung) serta kelainan darah seperti trombositopenia (penurunan jumlah trombosit).

Gejala dan tanda difteri di antaranya adalah demam (suhu tubuh sekitar 38 derajat Celsius), munculnya selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan dan mudah berdarah jika dilepaskan, serta sakit ketika menelan. Gejala tersebut dapat disertai pembesaran kelenjar getah bening leher dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck. Selain itu, dapat ditemukan anak mengalami sesak napas disertai dengan suara mengorok.

Penyakit ini dapat ditularkan melalui percikan cairan dari saluran pernapasan atau kontak langsung dengan cairan yang keluar dari saluran pernapasan misalnya ketika seseorang bersin atau batuk. Penularan lewat luka terbuka di kulit juga dapat terjadi, namun lebih jarang ditemui.

Pemberian imunisasi difteri

Imunisasi difteri diberikan melalui cara disuntikan. Pemberian imunisasi ini disarankan sejak bayi. Imunisasi DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis) merupakan imunisasi yang diberikan pada bayi sebanyak tiga kali yaitu pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Selain itu, dilakukan imunisasi ulangan berupa booster sebanyak 2 kali yaitu pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

Pemerintah juga menyarankan pemberian imunisasi bagi anak Sekolah Dasar (SD) melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Anak sekolah dasar atau sederajat kelas 1 wajib mendapatkan satu kali imunisasi DT sedangkan anak sekolah dasar atau sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td. Selanjutnya, imunisasi ulangan dilakukan setiap 10 tahun, termasuk bagi orang dewasa.

Di mana saya bisa mendapatkan imunisasi difteri?

Dalam rangka mencegah penyebaran difteri lebih lanjut, pemerintah menyediakan imunisasi difteri secara gratis untuk anak usia satu sampai 19 tahun mulai bulan Desember 2017 di sekolah dan berbagai sarana kesehatan lainnya seperti Puskesmas dan Posyandu. Segera lakukan imunisasi untuk mencegah anak Anda dari difteri.

Kenapa wajib imunisasi?

Anda mungkin masih ragu untuk mendapatkan imunisasi difteri. Padahal, difteri adalah salah satu jenis penyakit yang dapat dicegah dan dikendalikan. Caranya yaitu dengan mendapatkan vaksin (imunisasi) difteri.

Selain meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap difteri, imunisasi juga mampu mencegah penyebaran penyakit ini lebih lanjut. Karena itu, penting bagi setiap anak untuk mendapatkan imunisasi difteri.

Jangan khawatir, imunisasi ini sudah dinyatakan aman bagi anak-anak dan orang dewasa. Efek samping sangat jarang terjadi, dan biasanya bersifat ringan misalnya demam. Ini wajar karena tubuh akan bereaksi terhadap vaksin yang diberikan.

0 komentar:

Posting Komentar