Sabtu, 09 Juni 2018

Ternyata Ada Kaitannya Antara Ramadhan Sale dan Gangguan Mental, Ini Dia Ulasannya!

Ternyata Ada Kaitannya Antara Ramadhan Sale dan Gangguan Mental, Ini Dia Ulasannya!

Berbelanja saat ini menjadi salah satu kebiasaan tertentu tidak hanya untuk wanita namun juga pria yang tidak jarang memberikan kepuasan tersendiri yang berujung pada efek negatif seperti pemborosan. Bagi pelaku belanja misalnya di toko online terpercaya merupakan salah satu momen yang paling ditunggu sebab saat hari belanja online nasional tersebut konsumen akan bisa membeli barang ramadhan sale yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah karena banyaknya promo seperti potongan harga.

Berdasarkan pada teori psikologis mengenai perilaku pembeli ataupun pelanggan, terdapat 3 cara pendekatan pokok, yaitu:

  • Ekspreimental: Pendekatan ini memusatkan perhatian ke eskistensi fisiologikal atau pada kebutuhan tubuh sebagai kekuatan yang motivasional eskperimen.
  • Klinikal: Rangsangan yang dimulai dari analisis dasar sebab sewaktu-waktu rangsangan tersebut dimodifikasi oleh kekuatan sosial.
  • Gestalt: Disebut juga sebagai psikologi sosial yang menganggap individu dan lingkungannya sebagai keseluruhan yang tidak dapat dibagi dan perilaku ini mengarah ke berbagai jenis tujuan.

Sayangnya saat Ramadhan sale dengan banyaknya promo belanja seperti cashback, potongan harga, promo misalnya beli 2 gratis 1 ataupun gratis ongkos kirim, menyebabkan tidak sedikit konsumen yang gila belanja untuk menikmati promo tersebut. Gila belanja atau yang biasanya dikenal sebagai shopaholic ini menderita obsesif kompulsif dimana orang tersebut nyaman jika mewujudkan keinginannya dengan tindakan yaitu dengan belanja.

Karena saat sale banyak potongan harga ataupun promo yang lainnya, tidak heran jika ada pelanggan atau pembeli yang membeli dengan berlebihan. Impulsive buying yang dilakukan oleh konsumen ini bisa disebabkan karena banyak hal dan salah satu diantaranya adalah tekanan seperti sedang stress. Jika dilihat dari segi gender, wanita mempunyai tendensi yang lebih tinggi untuk melakukan impulsive buying dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena wanita cenderung untuk melakukan sesuatu dengan sisi emosional dan faktor ‘hubungan dekat’ atau sudah kenal dengan orang yang menjual barang tersebut sedangkan bagi pria sendiri, mereka cenderung melihat dan memilih barang yang berguna untuk dirinya sendiri. Jika dilihat dari rentang usia, usia 18-39 tahun merupakan usia yang rentan untuk mengalami impulsive buying. Alasannya adalah karena usia muda dinilai merupakan masa dimana orang tidak merasakan cemas saat menghamburkan uang dan masih memiliki kontrol diri yang rendah. Tidak heran jika remaja dan ibu rumah tangga lebih menghabiskan waktunya untuk berbelanja online di saat waktu luang atau saat ingin sesuatu.

Para peneliti pernah mengungkapkan jika gejala gila tersebut dapat berujung pada gangguan mental misalnya kehilangan realitas dan kecemasan. Hal tersebut ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang berasal dari Long Island University yang mengamati perilaku dari orang yang belanja kala midnight sale. Menurut Noel Hunter yang merupakan salah satu peneliti yang ikut serta dalam penelitian tersebut mengemukakan jika diskon yang terjadi dalam waktu yang singkat dapat meningkatkan rasa cemas. Karena hal tersebut, gejala gangguan mental muncul.

Berdasarkan pada penelitian tersebut, para peneliti menemukan jika sebanyak 20% dari pengunjung mengalami rasa cemas yang berlebihan saat berbelanja. Sebanyak 23% dari pengunjung tersebut juga seolah merasa hilang kesadaran dari dunia nyata dan bahkan hampir 50% pengunjung kehilangan rasa empati kepada orang lain yang sama-sama melakukan belanja. Jika dari midnight sale diperoleh hasil yang cukup menunjukkan tanda gangguan mental, saat Ramadhan sale pun jika tidak terkontrol, akan berdampak parah bagi mental dan kondisi keuangan anda.



0 komentar:

Posting Komentar