Kamis, 21 Juni 2018

Mengapa Anda Terbangun 5 Menit Sebelum Alarm Berbunyi?


Jika Anda tidur dan bangun pada waktu yang relatif sama setiap malam, tubuh akan terbiasa dengan kebiasaan itu.

Jam tidur yang teratur juga akan memicu tubuh untuk meningkatkan kadar protein PER (Period Circadian).

Protein PER bertugas mengatur naik-turunnya siklus tidur yang berkaitan dengan tekanan darah dan detak jantung.

Jadi, jika Anda memiliki rutinitas tidur yang baik, tubuh akan belajar untuk meningkatkan kadar protein PER sebagai alarm alami tubuh.

Biasanya, protein akan mulai meningkat 1-2 jam sebelum waktu tidur tiba, meningkatkan tekanan darah dan detak jantung.

Itulah alasan mengapa Anda bisa terbangun beberapa menit hingga satu jam sebelum alarm berbunyi.

Kondisi itu sekaligus merupakan pertanda bahwa Anda telah memiliki jam tidur yang cukup teratur selama ini.

Sebaliknya, jika Anda selalu bergantung pada alarm untuk bisa bangun dari tidur, bahkan melewatkan alarm, ini bisa menjadi tanda bahwa Anda tidak cukup tidur, atau memiliki jadwal tidur yang tidak teratur.

Tidur dan bangun pada waktu yang berbeda hampir setiap hari, dapat membuang ritme internal tubuh, yang tak hanya membuat jam bangun Anda “berantakan”, namun juga berisiko membuat Anda tetap lelah, walau sudah tidur lama.

Dengan kata lain, memiliki waktu tidur yang teratur bisa membuat Anda merasa lebih konsisten dan beristirahat dengan baik.

Minggu, 17 Juni 2018

Ideal Lama Berlibur untuk Anda


Semua orang tentu suka liburan. Mengunjungi berbagai tempat yang indah dan memamerkannya lewat instagram pasti menjadi hal yang tak bisa ditolak.

Namun, mampukah kita melewati liburan yang terlampau panjang tanpa merasa bosan dan tidak merindukan rumah?

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam The Journal of Happiness, jawabannya adalah tidak. Bahkan penelitian ilmiah telah mejawab berapa lama waktu yang ideal untuk berlibur.

Waktu ideal untuk berlibur adalah 8 hari, yang merupakan panjang waktu optimal untuk memaksimalkan relaksasi dan kebahagiaan tanpa menjadi bosan atau rindu rumah.

Delapan hari istirahat dari pekerjaan dan rutinitas dapat menciptakan perasaan bahagia dengan memperbaiki mood. Delapan hari berlibur juga menjadi waktu yang cukup untuk mengurangi tingkat stres dan mengembalikan energi.

Ini adalah waktu yang cukup untuk membongkar, menyelesaikan, dan beristirahat dari rutinitas. Lebih lama dari itu, justru membuat liburan menjadi kurang menggairahkan. Hal ini malah akan membuat kita sulit menyesuaikan kembali dengan rutinitas sebelum liburan datang.

Periset mendapatkan angka delapan setelah setiap hari mengajukan pertanyaan pada orang yang liburan. Pertanyaannya seperti "Bagaimana suasana hati Anda hari ini?", "Seberapa tegang perasaan Anda hari ini?", dan "Bagaimana semangat Anda saat ini?"

Ketika peserta kembali ke rumah mereka, periset juga kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa manfaat emosional dan kesehatan dari liburan meningkat dengan cepat dan memuncak pada hari kedelapan.

Setelah itu manfaat liburan kembali menurun. Dan dalam seminggu setelah kembali pada rutinitas, suasana fisik dan mental hampir semua peserta kembali ke tingkat awal liburan.

Tapi, jangan biarkan kabar tersebut membuat Anda tidak berminat liburan. Penelitian ini juga menemukan fakta bahwa berlibur adalah hal yang sangat penting, seperti kebutuhan kita akan tidur.

Artinya, setelah bekerja, tubuh juga perlu tidur, lalu bangun, dan tidur lagi. Begitu juga dengan liburan. Perlu ada waktu untuk membuat fisik dan mental beristirahat.

Sabtu, 09 Juni 2018

Ternyata Ada Kaitannya Antara Ramadhan Sale dan Gangguan Mental, Ini Dia Ulasannya!

Ternyata Ada Kaitannya Antara Ramadhan Sale dan Gangguan Mental, Ini Dia Ulasannya!

Berbelanja saat ini menjadi salah satu kebiasaan tertentu tidak hanya untuk wanita namun juga pria yang tidak jarang memberikan kepuasan tersendiri yang berujung pada efek negatif seperti pemborosan. Bagi pelaku belanja misalnya di toko online terpercaya merupakan salah satu momen yang paling ditunggu sebab saat hari belanja online nasional tersebut konsumen akan bisa membeli barang ramadhan sale yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah karena banyaknya promo seperti potongan harga.

Berdasarkan pada teori psikologis mengenai perilaku pembeli ataupun pelanggan, terdapat 3 cara pendekatan pokok, yaitu:

  • Ekspreimental: Pendekatan ini memusatkan perhatian ke eskistensi fisiologikal atau pada kebutuhan tubuh sebagai kekuatan yang motivasional eskperimen.
  • Klinikal: Rangsangan yang dimulai dari analisis dasar sebab sewaktu-waktu rangsangan tersebut dimodifikasi oleh kekuatan sosial.
  • Gestalt: Disebut juga sebagai psikologi sosial yang menganggap individu dan lingkungannya sebagai keseluruhan yang tidak dapat dibagi dan perilaku ini mengarah ke berbagai jenis tujuan.

Sayangnya saat Ramadhan sale dengan banyaknya promo belanja seperti cashback, potongan harga, promo misalnya beli 2 gratis 1 ataupun gratis ongkos kirim, menyebabkan tidak sedikit konsumen yang gila belanja untuk menikmati promo tersebut. Gila belanja atau yang biasanya dikenal sebagai shopaholic ini menderita obsesif kompulsif dimana orang tersebut nyaman jika mewujudkan keinginannya dengan tindakan yaitu dengan belanja.

Karena saat sale banyak potongan harga ataupun promo yang lainnya, tidak heran jika ada pelanggan atau pembeli yang membeli dengan berlebihan. Impulsive buying yang dilakukan oleh konsumen ini bisa disebabkan karena banyak hal dan salah satu diantaranya adalah tekanan seperti sedang stress. Jika dilihat dari segi gender, wanita mempunyai tendensi yang lebih tinggi untuk melakukan impulsive buying dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena wanita cenderung untuk melakukan sesuatu dengan sisi emosional dan faktor ‘hubungan dekat’ atau sudah kenal dengan orang yang menjual barang tersebut sedangkan bagi pria sendiri, mereka cenderung melihat dan memilih barang yang berguna untuk dirinya sendiri. Jika dilihat dari rentang usia, usia 18-39 tahun merupakan usia yang rentan untuk mengalami impulsive buying. Alasannya adalah karena usia muda dinilai merupakan masa dimana orang tidak merasakan cemas saat menghamburkan uang dan masih memiliki kontrol diri yang rendah. Tidak heran jika remaja dan ibu rumah tangga lebih menghabiskan waktunya untuk berbelanja online di saat waktu luang atau saat ingin sesuatu.

Para peneliti pernah mengungkapkan jika gejala gila tersebut dapat berujung pada gangguan mental misalnya kehilangan realitas dan kecemasan. Hal tersebut ditunjukkan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang berasal dari Long Island University yang mengamati perilaku dari orang yang belanja kala midnight sale. Menurut Noel Hunter yang merupakan salah satu peneliti yang ikut serta dalam penelitian tersebut mengemukakan jika diskon yang terjadi dalam waktu yang singkat dapat meningkatkan rasa cemas. Karena hal tersebut, gejala gangguan mental muncul.

Berdasarkan pada penelitian tersebut, para peneliti menemukan jika sebanyak 20% dari pengunjung mengalami rasa cemas yang berlebihan saat berbelanja. Sebanyak 23% dari pengunjung tersebut juga seolah merasa hilang kesadaran dari dunia nyata dan bahkan hampir 50% pengunjung kehilangan rasa empati kepada orang lain yang sama-sama melakukan belanja. Jika dari midnight sale diperoleh hasil yang cukup menunjukkan tanda gangguan mental, saat Ramadhan sale pun jika tidak terkontrol, akan berdampak parah bagi mental dan kondisi keuangan anda.